Menu

DERFAFU.BLOGSPOT.COM

DERFAFU.BLOGSPOT.COM

Aku Beruntung Memilikimu


Malam ini aku tidak bisa tidur, jantungku terus berdegup kencang dari siang, dari tadi aku hanya tiduran melamun menghadap kanan sambil memeluk boneka guling berbentuk beruang berwarna pink yang memang merupakan warna kesukaanku. Mata ini benar-benar sulit terpejam karena pikiranku masih menerawang membayangkan kejadian yang baru terjadi tadi
siang. Ya, kejadian tadi siang benar-benar seolah mimpi bagiku, sesuatu yang sangat tidak aku sangka akan terjadi dalam
hidupku.

Tadi siang tepat ketika aku merebahkan badanku di ranjang selepas pulang kuliah, aku mendapatkan SMS dari nomor yang tidak tercatat dalam kontak HP-ku. SMS yang berbunyi “Assalamu’alaykum..ini bener Sindy ya?Sindy, ini aku Zaky temen SMP dulu, masih inget nggak?..yang dulu suka pinjem PR..hehe ..aku pengen maen ke rumah kamu nih, kamu ada di rumah kan?” itu sangat mengagetkanku. Aku sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan sahabat lamaku yang sudah bertahu-tahun tidak bertemu, hampir lima tahun kami tidak pernah bertemu, bahkan komunikasi pun tidak sama sekali.

Sejenak aku coba mengingat-ingat sosok Zaky teman SMP-ku itu. Ya, lelaki yang sebenarnya mempunyai wajah tampan namun mempunyai sifat gokil dan asal-asalan yang membuat para wanita menjadi ilfil padanya, aku tertawa geli membayangkannya. Tapi Zaky bukanlah seorang yang bodoh hanya karena dia sering meminjam PR, bahkan ia adalah lelaki cerdas yang sangat kritis menurutku, namun entah apa alasannya, ia sangat malas dalam mengerjakan PR. Zaky adalah seorang yang selalu terlihat ceria bahkan seolah tidak pernah mempunyai masalah dalam hidupnya. Dan yang paling membuat aku kagum pada sosok Zaky adalah ketika ibunya meninggal dunia karena sakit jantung. Saat itu kami sudah kelas 3 SMP, sudah menjelang akhir karena pada saat itu kami sedang ada try out persiapan Ujian Akhir Nasional. Ya, sangat mengenaskan sekali, ketika kami semua termasuk dia sedang mengerjakan soal try out tiba-tiba salah seorang guru kami memanggilnya keluar dan mengatakan sesuatu padanya. Kami semua bingung karena ia kembali masuk kelas dengan berlari dan cepat-cepat memasukkan alat tulisnya ke dalam tasnya. Ia lalu bergegas keluar kelas tanpa mengatakan sepatah kata pun, namun aku melihat dengan sekilas airmata mengalir di wajahnya yang biasanya selalu terhiasi dengan senyum dan keceriaan, aku semakin bingung dan panasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Selepas dia pergi, Bapak Guru memberitahukan pada kami semua bahwa Ibunda dari Muhammad Zaky Al-afasy telah pulang ke Rahmatullah karena serangan jantung. Innalillahi wai inna ilaihi raaji’uun, itulah kalimat yang secara spontan keluar bersamaan dari mulut kami semua. Aku bisa membayangkan kesedihan yang dirasakan olehnya saat itu, ia ditinggal pergi oleh manusia pertama dalam hidupnya disaat berjuang untuk menghadapi ujian yang menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa selama belajar tiga tahun belajar, ia juga pasti akan kehilangan konsentrasi dalam belajar karena hal itu.

Sepulang sekolah, aku beserta murid-murid lain dan para guru pun lansung pergi ke rumah dia untuk ta’ziyah. Disana aku melihat Zaky yang selalu tertawa sedang memeluk jenazah ibunya. Matanya mengucurkan airmata yang sangat deras, namun tidak sedikitpun mulutnya mengeluarkan suara tangisan. Ya, aku tahu, itulah tangisan Sang Juara, tangisan seorang yang tabah bukan seorang yang cengeng. Tangisan tulus penuh kehilangan seorang anak pada sosok yang telah membesarkannya selama ini, tangisan pada seorang ibu yang telah mengorbankan kebahagiaan bahkan nyawanya demi buah hati yang sangat dicintainya. Aku melihat Zaky mencium pipi ibunya, setelah itu ia menyeka airmata yang terus mengalir di pipinya, dan ia pun tersenyum. Indah, sangat indah, benar-benar sangat indah dan damai pemandangan saat itu, lebih indah dari pemandangan yang paling indah di muka bumi ini, hati kami semua seakan rontok oleh apa yang baru saja kami lihat. Ia lalu mencium kening ibunya dan berkata “Umi, Zaky janji akan menjadi anak yang sholeh agar Zaky bisa terus mendoakan kebaikan Umi di akhirat nanti dan agar Allah mengabulkan doa Zaky untuk umi. Umi, maaf umi nggak bisa liat Zaky sebelum meninggal, Zaky juga sangat kecewa, walau nggak tau di mana kita nanti ditempatkan oleh Allah di akhirat tapi Zaky berharap kita bisa kumpul sama-sama lagi di surga nanti..Amien.. Umi, Zaky janji Zaky akan bikin bangga umi..Zaky cinta dan sayang umi”, ia kembali tersenyum dan kecupan terakhir pun diberikan Zaky pada dahi “Malaikat”nya tersebut sebelum jenazah ibunya tersebut dikebumikan. Kami semua menangis menyaksikan hal itu, ya, benar-benar tegar manusia yang aku kenal ini, ia membuat kami menangis dengan senyumnya.

Selepas jenazah dikebumikan, Zaky mendatangi kami semua, hal yang sangat terbalik karena seharusnya kami semualah yang mendatangi dan menghiburnya, tapi begitulah ia, Zaky Sang Jagoan, begitulah aku menyebutnya. Dengan tersenyum ia bertanya padaku dan teman-teman, “kog pada ke sini semua, emank udah pada izin orangtua ya?”. Wow, dengan masih sedikit menyimpan rasa kaget, akupun menjawab, “belum nih, tapi nggak pap kog Zak, pasti diizinin. Kamu yang tabah ya? Jangan sedih, kami nanti kehilangan Zaki yang asli kalau kamu sedih?”. “haha..ngapain sedih sih?”, ia menjawab sambil tertawa yang membuat kami semakin bingung bahkan mengira ia jadi gila. Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan mendengar jawaban darinya tersebut, “lho?”. “mungkin aku memang sedih karena kecewa sampai umiku meninggal aku belum bisa menjadi seperti yang beliau harapkan, aku belum bisa membanggakan beliau dengan suatu apapun, aku malah lebih sering menyusahkan dan bikin sedih beliau. Tapi aku senang karena akhirnya aku nggak bikin beliau nangis sedih lagi..hehe”.

Aku bertanya, “maksudnya?”.

Ia pun menjawab seraya tersenyum, “gini, waktu aku lahir, umi menangis karena bahagia, dan aku sangat bahagia karena umi umi nggak harus menangis sedih karena kepergianku. Aku lebih senang umi meninggal lebih dahulu daripada aku karena jika aku yang meninggal lebih dahulu daripada umi, pasti beliau akan menangis dan terus bersedih. Sekarang mungkin aku bersedih, tapi aku tetap bersyukur dan bahagia karena seenggaknya aku nggak bikin umi menangis dan bersedih sepanjang hidupnya. Lagipula semua yang ada di sisi kita kan cepat atau lambat akan pergi meninggalkan kita, kalau sekarang perginya ya mungkin itu memang takdir, mau diapain lagi? Kalaupun belum, pasti juga suatu saat akan pergi kan? So, nggak ada alasan donk buat bersedih? Semua udah diatur ama Sang Sutradara kog, tapi aku berharap sich semoga aku nggak kehilangan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya. Yuk minum-minum dulu di rumah, haus kan?”. Itulah dia, tanpa rasa sedih, seolah tanpa beban, ia kembali terawa, menyatu bersama kami

Maha Suci Allah dengan segala karunia-Nya, aku sungguh takjub dan terharu mendengar jawaban dari Sang Jagoan itu, jawaban yang sangat jauh lebih dewasa dari usianya yang masih lima belas tahun. Ya, perkataan itu akan selau aku ingat dalam memori indahku, perkataan yang selalu menjadi motivasiku selama ini, perkataan Sang Jagoan yang membuatku tegar menghadapi permasalahan hidup sampai sekarang. Dan yang lebih membuat aku kagum adalah saat ia mendapatkan nilai terbaik dalam Ujian Akhir Nasional, bahkan kata guru kami yang mengumumkan saat perpisahan, nilainya terbaik kedua se-kabupaten. Saat nama sang juara tersebut dipanggil, dengan sikap rendah hatinya yang lucu, garuk-garuk kepala dan toleh kanan kiri, ia membuat satu sekolah semua tertawa. Ya, tukang pinjam PR itu adalah seorang yang rendah hati dengan kepintarannya, seorang yang tidak mau terlihat pintar di depan orang lain, sungguh aku sangat kagum dengan manusia yang satu itu. Ups, terlalu lama aku melamun hingga lupa membalas SMS dari Zaky. SMS itupun aku jawab dengan singkat karena aku sudah terlalu rindu bertemu sahabat lama yang aku kagumi itu. Aku jawab SMS-nya seperti ini “wa’alaykumsalam wr wb..wooooooooooiiiii  ! ! ! ! ! ! ! zakyyyyyyyyyyyyyyyyyyy ! ! ! ! apa kabaaarrrrrr ?? udah nggak usah dijawab, aku ada di rumah nih, buruan ke sini, nggak usah pake mandiiiii ! ! !”. Cukup singkat bukan?hehe.

Aku pun segera bersiap menyambut kedatangan sahabatku tersebut, aku segera berganti pakaian dan memakai parfum sebanyak-banyaknya, tanpa perlu mandi karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu sahabatku itu. TIdak sampai setengah jam bel rumah pun berbunyi, adikku yang masih kelas dua SD ingin membukakan pintu, namun dengan sangat cepat aku merebut gagang pintu darinya dan berkata, “udah masuk sana, kakak tahu kog siapa yang datang !”. haha, karena aku terlalu rindu sahabatku sampai-sampai aku tidak rela kalau yang membukakan pintu adikku sendiri. Begitu aku buka, aku sangat takjub melihat sosok Zaky yang sekarang, dia memakai peci putih seperti Ust. Arifin Ilham yang sering aku lihat di TV, terlihat juga brewok-brewok tipis di wajahnya, ia pun memakai baju koko layaknya seorang ustadz, dan yang pasti ia makin tampan dari zaman SMP dulu. Aku terpana dan kaget melihat penampilannya sekarang dan tentu saja aku malu menyambutnya hanya dengan kaos lengan pendek dan celana pensil yang aku pakai. Di tengah lamunanku, aku disadarkan oleh ucapan salamnya yang ia ulang berkali-kali, “halooo ! ! assalamu’alaykum ! assalamu’alaykum ! Sindy, kamu kenapa? Denger nggak sich?”. “Astahfirullah, maaf maaf, iya, wa’alaykumsalam, ini Zaky bukan ya? Kog aku nggak percaya?”, aku menjawab dengan setengah tidak percaya dengan apa yang sekarang aku lihat. “hahahaha..masa’ sich kamu lupa ma aku sin? Ini Zaky yang dulu suka nyontek PR kamu dulu tiga tahun di SMP, masa ampe’ lupa?”.

“oh, yaudah, masuk deh, duduk dulu, aku ambilin minum dulu. Abiz itu kita bernostalgia ya??hehe”, jawabku seraya masuk ke dalam rumah.

Sebenarnya aku masuk bukan sekedar untuk membuatkannya minum, tapi juga untuk mengganti pakaianku dengan yang lebih sopan, aku ganti bawahanku dengan rok, dan atasannya aku pakai jaket. Setelah itu aku keluar membawakan minum dan kami bernostalgia tentang masa-masa lalu kami yang sangat seru dan lucu. Ia memintaku untuk ditemani adikku yang kelas dua SD saat ngobrol karena ia takut terjadi fitnah katanya, padahal menurutku itu hal biasa, tapi aku tahu ia lebih paham agama dan bagaimana yang benar, akhirnya aku menurut saja. Saat aku membawakan minum tadi pun aku sempat berkata, “eh, lupa belum salaman” seraya menjulurkan tanganku, dan ia hanya mengatupkan tangannya di dada sambil berkata “maaf, bukan mahram” seraya tersenyum. Aku tidak paham sama sekali karena semenjak SMA aku hampir tidak pernah belajar agama, sangat jarang sekali dan memang aku malas mempelajarinya. Hari ini aku langsung mendapat dua ilmu dari Sang Jagoan.

Dari obrolan kami, akhirnya aku tahu kalau setelah lulus SMP ia melanjutkan sekolah ke pesantren selama tiga tahun. Setelah lulus dari pesantren akhirnya ia pergi ke Madinah untuk mulazamah dengan Syeikh di sana. Tanpa mengejar gelar, iapun pulang setelah dua tahun merasa telah cukup dan karena ia diminta pulang oleh abinya untuk mengurus rumah makan milik keluarganya. Sebagai anak tunggal dan abinya pun sudah sangat tua, tentu ia sangat berat untuk menolak perintah itu.

Akhirnya obrolan pun sampai pada intinya, ia bercerita “sebenarnya gini,satu bulan yang lalu aku pulang ke Indonesia, dan abi minta aku supaya menikah karena beliau pengen punya cucu sebelum meninggal. Aku bingung pada saat itu, nah, akhirnya aku memutuskan untuk sholat istikhoroh dari seminggu yang lalu, dan aku sudah sholat istikhoroh tujuh kali berturut-turut sampai yang terakhir tadi malam. Yang aneh, jawaban yang keluar dalam mimpi aku itu selalu kamu, padahal pada saat sholat itu aku tidak memikirkan kamu sama sekali, bahkan aku sudah lupa sama sekali dengan kamu. Maka dari itu, niat aku ke sini adalah untuk mengkhitbah kamu”.

Aku langsung merasa seolah tak sadar saat itu, serasa mau pingsan, tubuh aku benar-benar tidak bisa bergerak saat itu, lidah aku apalagi, sangat berat untuk mengangkat. Aku bingung mau menjawab apa, lamaran seorang ustadz yang sholih pada wanita biasa seperti aku, aku merasa sangat tidak pantas. Akhirnya dengan sangat berat, aku beranikan menjawab setelah aku minta adikku untuk masuk ke dalam rumah, “maaf Zak sebelumnya, bukannya aku menolak, tapi aku merasa nggak pantes kalau harus bersanding ma kamu. Kamu tau kan aku kaya’ gini? Lihat pakaian akau? Lihat aku, pergaulan aku pun sangat biasa ma cowok-cowok, keluargaku juga nggak islami, ilmu agama aku sedikit,maaf, apa nggak lebih baik kamu cari yang selevel ama kamu aja? Yang ilmu agamanya sama, bukanlah laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan begitu pula sebaliknya? Aku merasa malu jika melihat diri aku yang seperti ini harus bersanding dengan kamu yang sangat sholih ini..”.

Mendengar jawabanku, ia hanya tersenyum dengan senyum khas Sang Juara yang aku kenal tanpa mengalami perubahan sedikitpun dan menjawab, “hmm..kalau seandainya jawaban mimpiku selama tujuh hari berturut-turut bukan kamu, aku nggak mungkin kog sampai mengkhitbah kamu gini, karena aku memang tidak meminta kamu sebagai jawaban aku dan aku tidak ada kecenderungan padamu saat sholat istikhoroh. Aku sadar, Allah memberi jawaban mimpi aku itu kamu tuh punya maksud dan tujuan, dan aku tau maksud dan tujuan Allah adalah agar aku bisa membuatmu menjadi lebih baik dan semakin baik, kita sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi karena aku pun juga belum terlalu baik. Nggak semua laki-laki yang baik mendapatkan perempuan yang baik, Nabi Nuh dan Nabi Luth contohnya, istri mereka adalah pembangkang dan pengkhianat. Dan tidak semua wanita yang baik mendapatkan laki-laki yang baik, Asiyah istri Fir’aun contohnya, padahal Asiyah adalah satu dari dua wanita yang semprna yang pernah ada di dunia selain Maryam Ibunda Nabi Isa AS seperti yang tersebut dalam hadits Rasul SAW…kalau semua laki-laki baik mendapatkan wanita baik atau sebaliknya, maka nggak ada perbaikan yang terjadi di agama kita, yang alim makin alim, yang rusak makin rusak..Allah menciptakan semua itu selaras dan seimbang agar saling memperbaiki dan mengajak dalam kebenaran..hmm, bagaimana? Semua terserah kamu, tapi ada baiknya kamu istikharah dulu biar gampang mutusinnya. Minta ketetapan hati pada Sang Pembolak-balik Hati, aku juga nggak maksa kog”. Sekali lagi, ia mengakhiri kata-katanya dengan senyuman Sang Jagoan.

Aku sangat terharu mendengar jawaban dari Zaky, sebenarnya aku sangat bahagia dilamar oleh laki-laki sesholih dia, tapi justru karena kesholihannya lah aku merasa kecil disisinya. Di sisi lain, aku sebenarnya masih sangat kaget seorang sahabat dekatku zaman SMP tiba-tiba melamarku. Aku bingung harus berbuat apa saat itu, apakah harus langsung memanggil mamaku yang sedang memasak di dapur agar beliau yang menjawab semuanya atau menjawab semampuku dan meminta waktu. Zaky pun belum aku beritahu tentang penyakitku yang saat ini sedang ku derita, penyakit yang membuatku tidak bisa mempunyai keturunan. Itulah alasanku selama ini mengapa aku enggan dekat dengan laki-laki, karena aku takut mereka kecewa setelah mengetahui penyakit yang aku derita. Bahkan orangtuaku pun tidak tahu apapun tentang penyakit ini karena memang aku memeriksakannya secara diam-diam, jadi hanya Allah, aku, dan dokter yang mengetahuinya.

Di tengah kebimbanganku, akhirnya aku putuskan untuk meminta waktu padanya tiga hari agar aku bisa mempertimbangkan segala hal termasuk pendidikanku untuk kemudian memutuskannya. Jika “iya”, dia akan langsung datang mengkhitbah bersama abinya, jika “tidak”, entahlah, karena memang aku sangat sulit untuk mengatakan “tidak” pada sosok lelaki sholih itu. Akhirnya ia minta izin pulang dan aku mengantarnya sampai halaman depan.

Begitu masuk rumah, mama yang telah selesai memasak dan saat itu sedang nonton TV pun bertanya, “siapa tadi sin?”.

“Zaky ma, temen SMP, yang dulu sering maen ke sini, masih ingat kan?”

“Ya Allah, Zaky yang suka ngelucu itu? Yang makannya banyak ampe bolak-balik ke toilet kalau maen itu? Gimana kabar dia? Sekarang kuliah dimana?”, sahut mama dengan semangat ’45 seraya bangkit dari berbaring.

Dengan disertai tawa yang terbahak-bahak karena komentar mama, akupun mejawab, “haha..mama mah itunya yang diinget..Alhamdulillah baik kog ma, dia sekarang jadi ustadz sekaligus jadi pemilik Rumah Makan yang dulu punya orangtuanya ma..”

“Wah, hebat ya? Udah nikah belum dia? Pasti udah ya, orang ganteng gitu kog !”

Duk, jantungku kembali berdetak kencang mendengar pertanyaan mama. Aku bingung apakah harus memberi tahu beliau sekarang atau nanti sekalian menunggu papa datang dari kerja. Hmm, akhirnya aku putuskan menjawab karena toh sama saja nanti atau sekarang pasti mama juga bakal tahu. “hmm, belum kog ma, malahan tadi dia ke sini mau melamar Sindy”, jawabku sambil deg-degan menanti jawaban mama.

“Alhamdulillah ! wah, dari dulu mama pengen banget dapet menantu ustadz, biar keluarga kita dapet berkah juga. Terus kapan orangtuanya mau ke sini?”

Wush, tiba-tiba hatiku seperti tercelup ice cream(bahasa penulis yang LEBAY..hehe), dingin dan sejuk rasanya, aku sangat tidak menyangka mama akan menjawab seperti itu karena dipikiranku mama pasti menolak karena dahulu mama pernah bilang kalau mama sangat ingin anakanya jadi sarjana dulu sebalum menikah. Akhirnya daripada bingung, aku tanyakan pada mama,“kog mama tumben setuju? Katanya harus sarjana dulu sebelum nikah?”.

“sin, mama kan udah tua, nggak tau kapan bakal dipanggil Allah, mama sadar selama ini mama belum punya amal apa-apa. Harapan mama, dengan kamu menikah dengan Zaky, kamu bisa jadi sholihah, kamu bisa ngedoain mama kalau udah meninggal nanti. Mama yakin Zaky ke sini juga nggak sembarangan, pasti udah dapet petunjuk dari Allah, liat aja, banyak tuh cewek-cewek yang cantik-cantik, yang seger-seger, yang sholihah. Kalau nggak karena petunjuk Allah pasti dia nggak bakal ke sini. Kamu kan juga biasa aja, nggak cantik, cuma putih ma idungmu mancung aja, bersyukur harusnya !”

“ih, mama mah gitu, anak sendiri diejek, gini-gini juga mama ama papa kan yang bikin?”, jawabku sekenanya disertai rasa malu karena jawaban mama.

“lhah, kamu kan anak pertama sin, masih percobaan. Salah mungkin rumusnya !”

“ih, mamaaaaa ! ! !”, jawabku sambil mencubit pinggul mama. Aku dengan mama memang kadang suka sepeti teman sendiri kalau bercanda, itulah mengapa aku sangat betah di rumah. Karena aku mempunyai orangtua yang bersahabat.

“Yaudah, ntar ngomong aja ke papa, jawaban beliau apa, mama mah setuju aja”, mama menambahkan.

Malamnya setelah papa mandi selepas pulang dari kantor, aku mengajak beliau ngobrol di ruang keluarga tentang hal yang terjadi tadi siang. Jawaban papa intinya sama seperti mama, tapi di akhir beliau menambahkan, “Gini sin, papa dan mama akan bangga kalau kamu bisa jadi sarjana kelak, tapi papa dan mama akan lebih bangga kalau punya anak sholihah yang bisa jadi syafa’at nanti waktu di akhirat. Kesempatan kaya’ gini mungkin akan jadi yang pertama dan terakhir buat keluarga kita, jangan sampai di sia-siain. Masalah kuliah lagi kan gampang, nanti bisa kamu omongin ma Zaky kalau sudah nikah. Tapi ya semua tetap terserah kamu, papa mama nggak maksa kog. Hidupmu ya kamu sendiri yang nentuin”.

Jawaban papa membuat aku semakin yakin, tapi aku masih sedikit ragu dan bimbang karena masalah penyakit yang aku derita. Aku masih terpaku di ranjang memikirkan lamaran dari orang yang aku sebut Sang Jagoan saat SMP.

Tidak ku sangka ternyata aku terlalu lama melamun dan waktu telah menunjukkan pukul dua pagi. Entah mengapa saat itu aku tergerak untuk melakukan sholat tahajud, ya, padahal seingatku, terakhir aku melakukannya adalah saat pesantren kilat waktu aku kelas satu SMA. Akhirnya aku memutuskan mengambil air wudhu dan melaksanakan saholat tahajud. Setelah selesai, aku berdoa pada Allah memohon petunjuk dan jawaban darinya. Tiba-tiba aku merasakan kantuk dan aku tertidur diatas sajadahku.

Keeesokan paginya saat di kampus, pikiranku langsung tertuju pada kantor LDK fakultas aku. Aku berharap dapat menemukan teman di sana yang bisa aku mintai masukan. Alhamdulillah, ternyata di depan kantornya ada beberapa pengurus LDK wanita yang sedang ngobrol, mereka mengenakan gamis dan jilbab yang lebar, terlihat sangat anggun dan menyejukkan di mataku. Karena aku mengenal salah satu dari mereka yang memang merupakan kakak kelasku saat SMA dan memang merupakan anak Rohis waktu SMA dulu, kak lita namanya, akhirnya aku memanggilnya. Akhirnya aku menceritakan semua yang sedang aku hadapi dan kebimbanganku pada kak lita dan berharap kak lita memberi jawaban yang sangat memuaskan.

Dengan diawali menarik nafas yang panjang, akhirnya kak lita menjawab setelah aku selasai bercerita, “hmm.kalau ada lelaki shalih yang melamar kamu seperti itu, wajib bagi kamu menerimanya. Rasulullah SAW bersabda : Manakala ada orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaqnya datang kepada kalian(untuk melamar putri kalian), maka hendaklah nikahkanlah ia(dengan putrimu), jika tidak, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar. Temen kakak juga ada yang jadi korban dulu, di lamar lelaki sholih nggak mau, sekarang hidupnya memelas banget tapi ngak bersyukur juga, kerjaannya marah-marah mulu, pokonya keluarganya nggak harmonis dech. Makanya jangan sampai kamu kaya’ gitu, diterima aja ya? Jangan lupa undang-undang ya?hehe..”

Aku sejenak terdiam mendengar jawaban dari kak lita, sangat puas dengan jawaban darinya karena jawaban semacam itulah yang aku tunggu-tunggu dari kemarin. Eits, tapi aku masih menyimpan rahasia tentang penyakitku, aku berfikir lebih baik aku tanyakan sekalian biar benar-benar puas. “hmm..iya kak, makasy banget jawabannya ya? Aku benar-benar puas..pasti lah kak, insyaAllah aku undang kog..tapi aku masih punya ganjalan kak, aku punya penyakit yang membuatku sulit mempunyai keturunan, apa aku haru bilang juga ke dia? Aku takut dia nggak trima trus ntar nggak jadi dech nglamarnya?”.

“hmm, ya harus bilang, wajib hukumnya calon suami mengetahui cacat di istrinya walau bekas luka, begitu pula sebaliknya. Kakak yakin kog, lelaki yang sholih pasti menerimamu apa adanya, bukan karena fisikmu. Lelaki yang sholih ngggak liat wajah, harta, atau keturunan, tapi Allah lah yang menggerakkan hatinya untuk memperbaiki agamamu..udah ya? Kakak udah telat nih !”, ujar kak lita sambil mengedipkan mata kanannya padaku seraya pergi meninggalkanku.

Sepulang kuliah aku beranikan menelepon Zaky untuk memberitahukan tentang penyakitku. Aku telepon dia, setelah basa-basi sedikit akhirna aku memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya. “Zak, aku menderita kanker rahim sehingga aku akan mandul nantinya, kalaupun kita menikah nanti, aku nggak mungkn bisa memberimu keturunan, ini sebenarnya yang membuatku bingung antara menerima atau menolak lamaranmu. Jadi kalau kamu mundur silahkan, aku ikhlas kog. Mungkin kamu lebih baik dengan wanita lain yang subur karena abi menginkan cucu bukan? Sementara aku nggak bisa kasih cucu ke beliau. Kalau kamu mau mundur, inilah saatnya mumpung belum terlambat karena aku juga nggak mau di madu kalau udah nikah !”, aku mengatakan hal itu dengan bercucuran air mata, tidak kuat dengan apa yang aku rasakan sekarang, aku berharap Zaky tetap menerimaku, tapi aku takut ia benar-benar pergi.

Dari seberang sana, terdengar Zaky menarik nafas panjang lalu menjawab, “hmm..Sin, aku bukan Nabi Ibrahim kog. Aku bukan Nabi Ibrahim yang diharuskan mempunyai keturunan untuk meneruskan da’wah beliau sehingga harus menikah lagi dengan Siti Hajar. Yang aku butuhkan adalah seorang pendamping hidup yang mau jadi lebih baik bersamaku, pendamping hidup yang menerimaku apa adanya, pendamping hidup yang mau menjadi istri yang sholihah karena istri yang sholihah adalah ratunya bidadari surga suaminya. Masalah keturunan itu urusan Allah, apakah kamu bisa menjamin jika akumenikah dengan wanita lain, aku akan mempunyai keturunan? Tahukah kamu, istri Nabi Zakariya adalah seorang mandul, tapi berkat doa yang tiada henti beliau panjatkan, akhirnya beliau mempunyai anak yaitu Nabi Yahya? Aku menerimamu apa adanya, aku yakin di balik jawaban istikharahku itu tersimpan rahasia Allah yang sangat besar..sekarang semua aku serahkan padamu..bismillah..”

Mendengar jawaban dari Zaky, airmataku langsung mengalir deras, tanpa ku sadari aku menutup telepon dengannya. Aku takjub dan bersyukur Allah memberikan jalan pada Zaky untuk melamarku. Maha Suci Allah atas segala Kuasa-Nya.

Begitu sadar telah menutup telepon, akhirnya aku SMS dia karena malu jika harus menelepon kembali. SMS yang aku kirim sangat singkat karena aku sudah terlalu yakin dengan jawaban hatiku. “ya, aku mau..nggak usah nunggu 3 hari,  kalau kamu siap, kamu boleh khitbah aku sekarang”, ya, itulah SMS yang yang aku kirim ke Sang Jagoan. Ia tidak membalas apapun, tapi aku yakin ia akan memberiku kejutan nantinya.

Firasatku benar, malamnya Zaky datang bersama abinya dan seorang ustadz untuk meminangku. Keluargaku menyambut mereka dengan sangat gembira. Aku yang tidak memiliki pakaian muslimah akhirnya memakai pakaian seadanya, hanya kemeja kuliah, rok, kaos kaki, dan jilbab, itulah yang aku pakai saat lamaran. Aku akhirnya kembali memakai jilbab pada malam itu, padahal biasanya aku hanya memakai jilbab pada saat Ramadhan. Dan tanggapan mama saat aku memakainya, “cantiknya bu ustadzah pakai jilbab !”. Haha, kata-kata itu membuat wajahku memerah karena malu.


Prosesi lamaran berlangsung sangat santai, kadang disisipi bercanda karena orangtuaku dan orangtua Zaky sama-sama tipe humoris. Akhirnya ditentukanlah tanggal pernikahanku, dua minggu lagi ba’da isya’. Ya, seperti terlalu cepat, tapi tidak karena itu sudah seharusnya, karena memang jarak antara lamaran dan akad tidak boleh terlalu lama karena jika terlalu lama akan mengakibatkan maksiat pada dua calon mempelai dan akan timbul fitnah di masyarakat. Malam itu Zaky membawakan untukku 12 gamis beserta kerudungnya sebagai ganti pakaian-pakaian yang aku pakai selama ini karena aku harus berubah mulai saat itu, sebab status aku sudah menjadi tunangan Muhammad Zaky Al-afasy. Dua minggu lagi akad akan dilangsungkan bersamaan dengan walimah, dan saat itu aku akan resmi berstatus sebagai Bu Zaky, hihi, malu aku membayangkannya.

Akhirnya hari bahagia itupun tiba, hari dimana aku melepas status sebagai seorang lajang, hari dimana malamnya aku akan “diwisuda” oleh suamiku sebagai seorang istri, hari yang diharapkan oleh semua orang menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupnya, hari dimana perasaan bahagia dan haru bercampur menjadi satu, hari dimana dua keluarga telah menjadi satu. Hari itu aku memakai gamis berwarna putih tulang dengan jilbab yang serupa. Aku melihat wajahku di cermin yang memang nampak anggun dengan gamis dan jilbab lebar yang aku pakai. Aku merasa semakin cantik dengan pakaian aku yang sekarang, aku merasa menjadi wanita terhormat dengan pakaian itu, dan hanya satu kata yang dapat kukata, Alhamdulillah, karena hanya dengan bersyukurlah Allah akan menambah nikmat kita, termasuk nikmat wajah yang telah Allah berikan.

Hari itu Zaky juga memakai pakaian serba putih tulang tanpa peci. Badannya yang tinggi, wajahnya yang tampan, serta kewibawaan yang dimilikinya semakin memancarkan aura yang begitu dahsyat yang dimilikinya. Aku yakin, setiap wanita yang melihat Zaky saat ini akan jatuh cinta padanya karena aura yang ia pancarkan pada saat itu benar-benar luar biasa. Dan benar, pandangan semua semua tamu undangan wanita tertuju padanya. Aku sangat cemburu melihatnya, tapi apa boleh buat, toh ketampanan wajah Zaky adalah ciptaan Allah, dan aku sangat bersyukur mempunyai suami yang tampan lagi sholih seperti dia. Aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia saat itu, dan aku harap selamanya.

Prosesi ijab qabul berlangsung khidmad dan lancar, dan kini pun aku Sindy Efendy telah resmi menjadi istri seorang Muhammad Zaky Al-afasy. Setelah selesai pengucapan ijab qabul, aku melihat suamiku meneteskan airmata, airmata bahagia dari Sang Jagoan. Ya, kini Sang Jagoan itu adalah suamiku dan suamiku adalah Sang Jagoan yang aku bangga-banggakan dulu, aku terharu mengingatnya. Aku pun kini menangis dalam kebahagiaan yang tidak sanggup aku ungkapkan. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, sungguh kebahagiaan menikah adalah kebahagiaan yang tidak akan tertandingi oleh apapun.

Acara akad dan walimah pun telah selesai, para undangan telah pulang, yang tersisa hanya keluarga mungkin. Kenapa mungkin? Karena aku tidak tahu keadaan diluar sana dan memang aku tidak mau tahu. Memang dimanakah aku? Ya, Aku sedang berada di surganya para pengantin baru, aku saat ini sedang di ranjang pengantin bersama suamiku tercinta. Di kamar pengantin, di dalam rumah yang tidak ada siapa-siapa selain kami berdua, kami saling menumpahkan rasa sayang dan bahagia yang kami rasakan tanpa ada seorangpun yang menganggu. Suamiku yang sangat lucu dan menyenangkan itu sedang memadu kasih dan bercanda denganku di atas ranjang pengantin. Ia membaca doa “Allahumma Inni As-aluka Min Khairiha Wa Khairi Maa Jabaltaha ‘Alaihi, Wa A’uudzu bika Min Syarrihaa Wa Syarri Maa Jabaltaha ‘Alaih” dan mengecup bibirku. Aku sangat bahagia saat itu, dan kebahagiaan itu takkan tergantikan oleh apapun.

Saat yang dinantikan pun tiba, suamiku pun mengajakku sholat dua rakaat sebelum melakukannya. Setelah selesai sholat, kami pun langsung menuju “surga kami”. Ia pun membaca doa “Bismillah, Allahumma Jannibnasy Syaithaan Wa Jannibisy Syaithaana Maa Razaqtana”. Setelah itu ia mengecup dahiku, kedua mataku, hidungku, kedua pipiku, daguku, dan bibirku berkali-kali. Selanjutnya, aku resmi “diwisuda” oleh suamiku. Dan emua berlangsung hingga pagi.

Singkat cerita, sudah dua bulan aku menikah dan aku sangat bahagia dengan statusku yang sekarang. Memang benar kata orang, nikah itu nikmatnya cuma sekali, setelah itu, nikmaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattt banget (hehe..). Hari itu hari Ahad dan suamiku libur kerja, ia tiba-tiba memeluk aku dari belakang dan mengagetkanku yang sedang menggoreng ayam. Tangan kanannya memegang tangan kananku, tangan kirinya memegang tangan kiriku dan tiba-tiba ia mencium pipiku dari belakang.

“Sayang ih, ngagetin aja. Ntar gosong lho ayamnya ! jadi nggak enak..”
“ah, gosong juga kalau makannya ama kamu tetep brasa enak kog”
“ah..suamiku pagi-pagi udah ngegombal dech..wek !”
“hu..mang iya, apapun bahkan tai ayam juga kalau sambil liat kamu jadi enak rasanya !”
“ha? Beneran ya? Ntar aku ambilin tai ayam tetangga, aku suapin kasih kecap ma saos dikit biar enak !”
“waha, ya jangan lah..ih, tega suaminya dikasih tai ayam !”
“abisnya pagi-pagi udah ngegombal sich, gangguin masak pula..nih aku cium. Mmuuah, udah gih istrimu tercinta mau masak nih..”
“hihi..makasih udah dicium, aku bantu motongin sayur ya sayang?”
“iya, makasih suamiku tercinta :)”

Akhirnya masakan kami pun jadi, kami suap-suapan dengan mesranya. Tapi tiba-tiba, “mas, kog keasinan ya sayur sup-nya?”, tanyaku karena merasakan rasa yang sangat asin pada sayur sup yang kami masak.

“oh, iya ya? Padahal tadi aku masukin garamnya dikit lho sayang?”
“lho? Kog dimasukin garam lagi sih sayang? Kan tadi istrimu sudah masukuin lumayan banyak, ya pantes asin banget,,huhu”
“ah, tapi nggak kog, kalau mas makannya sambil liatin wajah kamu yang manis, jadi imbang rasanya, nggak brasa asin !”
“dasar mas nih, bisaaaaaaaaa aja ! yaudah, lanjutin makan yuk sayang? Gak apa-apa asin juga..”
“ayuk sayaaaang ! ! ! lanjuuut ! ! !”

Begitulah hari-hari kami, diliputi dengan kebahagiaan dan kemesraan. Tapi bukan kesenangan dunia saja yang aku dapatkan, ruhiyah aku pun terisi tiap hari, karena setelah sholat maghrib kami selalu membaca al-qur’an bersama dan setelah itu ia memberi sedikit tausiyah padaku. Pengetahuanku tentang agama pun makin bertambah makin hari, aku beruntung memiliki suami yang sholih seperti dia, suami yang tidak sekedar memikirkan duniaku, tapi juga akhiratku.

Tapi bukannya rumah tangga kami tanpa masalah. Masalah keturunan akhirnya menjadi pokok permasalahan bagi kami. Baik orangtuaku maupun orangtua suamiku sudah tak sabar memiliki cucu, mereka heran dengan usia pernikahan kami yang sudah memasuki bulan ketujuh tapi belum ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Aku sadar semua adalah salahku, karena aku menderita kanker rahim sehingga aku tidak bisa hamil, padahal segala macam obat dan terapi sudah kami coba tapi semua hasilnya nihil. Tapi suamiku Sang Jagoan tetaplah Sang Jagoan sampai sekarang, ia tidak pernah menuntutku dan menyalahkanku akan hal itu, bahkan ketika keluarga besar menanyakan pun ia hanya tersenyum dan menjawab “iya nih, belum rezekinya, Zaky mungkin kurang ni ikhtiarnya, ntar makin giat dech usahanya !”. Suamiku adalah Sang Jagoan sampai kapanpun.

Yang paling membat aku sdh adalah ketika mama bertanya padaku, “Sin, kog kamu nggak hamil-hamil sich, suamimu nggak ada masalah kana ma itunya? Atau angan-jangan dia mandul?”. Astaghfirullah,itu kata yang harus aku ucapkan dalam hati karena gara-gara akulah sumiku sampai dituduh yang tidak-tidak. Akhirnya demi menjaga semua, aku terpaksa berbohong pada mama, “nggak kog ma, kami udah periksa dan nggak ada apa-apa, kata dokter sich munkin kami salah waktu tiap hbungannya, bukan waktu subur”. “owh !”, itu jawaban yang keluar dari mulut mama, aku menangis dalam hati, menangis karena marasa telah mendzalimi suamiku dan telah berbohong pada mama.

Suamiku sangat paham dengan keadaanku yang sekarang sangat sedih, tapi ia selalu berusaha menghiburku dengan tingkah lucunya. Aku tahu ia juga sedih, tapi Sang Jagoan tetaplah Sang Jagoan, ia tetap tersenyum dalam keadaan apapun karena yakin semua sudah diatur oleh Sang Sutradara. Sampai suatu malam aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara tangis, aku melihat suamiku sudah tidak ada di sampingku. Berarti yang menangis itu adalah suamiku, begitu pikirku. Ternyata benar, suamiku yang sholih sedang berdoa sambil menangis selepas sholat tahajud. Aku coba mendengarkan doanya sambil jongkok dan berhati-hati agar tidak mengeluarkan suara karena itu pasti akan menganggu kekhusyu’an berdoanya. Doa suamiku tercinta sangat jelas terdengar olehku, ia berdoa seperti doa Nabi Zakariya pada Pencipta-Nya.

“Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa pada Engkau ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawair dengan penerus sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putera…..Ya Allah Yang Maha Berkehendak Atas Segala Sesuatu, hamba sangat mencintai istri hamba, melihatnya menderita dengan sakit yang dirasakannya saat berhalangan pun menjadi derita bagi hamba, segala pertanyaan tentang kehamilan yang tak kunjung tiba pun hamba tahu itu sangat menyiksanya. Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas segala amal sholih yang telah hamba lakukan sampai sekarang, sebuhkanlah sakit kanker rahim pada istri hamba dan berilah ia keturunan yang sholih sholihah dari Ya Rabb..Ya Allah, bila kebahagiaan hamba harus dicabut untuk membuat doa hamba terkabul, maka cabutlah kebahagiaan hamba dan berikanlah kehamilan padanya dari hamba..Ya Allah Yang Maha Mendengar Doa, jaga dan lindungilah selalu Sindi Efendy istriku dengan perlindungan-Mu Wahai Yang Tak Pernah Tidur, jagalah ia selalu dari sesuatu yang akan mencelakakannya..Ya Allah, buatlah agar istri hamba tetap bahagia meski kelak tak bersama hamba lagi..Ya Allah hanya kepadamu hamba memohon dan meminta, jika Engkau tidak mengabulkan doa hamba, kepada siapa lagi hamba akan memohon dan meminta Ya Allah..Ya Allah, kabulkanlah doa hamba.. Amien Yaa Rabbal ‘Aalamiien..”

Seketika itu juga airmataku meleleh membasahi pipiku, aku sangat terharu mendengar lantunan doa mas Zaky yang dengan rela mengorbankan semua demi aku. Tapi aku tidak boleh tetap di situ agar tidak ketahuan olehnya, aku segera kembali ke ranjang dan menyeka airmataku untuk pura-pura tidur kembali. Dan benar saja, baru saja aku kembali merebahkan badanku menghadap kanan, mas Zaky sudah memeluk tubuhku dari belakang, ia mengelus-elus perutku dengan tangan kirinya seraya berkata, “bismillah, dengan izin Allah ya sayang, bentar lagi kamu hamil insyaAllah..tenang aja, mas nggak mungkin kog ninggalin kamu cuma ara-gara ini, masa cinta kamu karena Allah. Mas mungkin nanti ninggalin kamu, tapi itu juga pasti sudah menjadi takdir Allah..mas sayaaaaang deh ma kamu..muah !”, doa itu diakhiri dengan kecupan di pipi kiriku. Aku ingin menangis tapi takut mas Zaky tahu dan pasti ia akan sedih melihatku menangis, padahal aku ingin menangis karena kata-kata terakhirnya tadi, apa maksudnya meninggalkanku dengan takdir Allah? Sungguh aku tidak kuat menahannya dan airmataku pun meleleh.

Sekarang sudah dua minggu sejak saat itu, tiba-tiba aku merasakan mual, aku pusing, aku ingin ke dokter tapi mas Zaky sedang bekerja. Akhirnya aku menelepon mas Zaky untuk meminta izin pergi ke dokter tetangga kami, mas Zaky yang tahu aku sakit pun langsung mengizinkan karena memang dokter tetangga kami seorang perempuan. Tapi yang membuatku curiga adalah saat aku telepon suara di belakang mas Zaky sangat berisik seperti kendaraan berlalu-lalang dan ada suara kereta api lewat, padahal aku tahu kalau Rumah Makan mas Zaky sangat jauh dari rel kereta api. Dan yang membuatku lebih curiga ada suara wanita yang seolah sedang memanggil-manggilnya dengan panggilan “mas !”, hatiku langsung panas saat itu karena jelas jika karyawan rumah makannya tidak mungkin memanggil dengan panggilan itu. “apakah mas Zaky selingkuh?”, itu yang ada d benakku saat itu. Tapi ketika aku bertanya padanya sedang apa, ia malah tertawa dengan tertawa khasnya dan berkata, “ya sedang mencari nafkah buat istri abadiku ama dede’ lah, kamu hamil tuh sayang, udah ih, buruan periksa ! love u honey ! muah !”. Hmm, jawabannya sangat meyakinkan dan aku juga berpikir tidak mungkin suamiku selingkuh.

Akhirnya aku memeriksakan diriku ke dokter dan hasil tesnya sangat mengagetkanku, ternyata aku positif hamil. Aku langsung buru-buru pulang untuk mengabarkan kabar bahagia ini ke suamiku tercinta yang tak pernah lelah berhenti dalam mendoakanku. Sambil menangis bahagia aku telpon mas Zaky, tapi tidak ada balasan darinya. Aku coba berkali-kali namun tetap saja tidak ada balasan. Rasa khawatr dan curiga beradu argumentasi dalam diriku, “apakah mas Zaky kecelakaan atau selingkuh. Kecelakaan? Mana mungkn di dalam rumah makan bisa kecelakaan? Apa benar mas Zaky selingkuh?”, semua hal buruk itu terus berkecamuk dalam pikiranku.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi segera aku seka airmataku dan langsung bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Aku sangat kaget ketika ternyata yang datang adalah dua orang polisi. Di tengah kebingunganku, salah seorang polisi tersebut menyapa dan bertanya padaku “selamat siang, benar ini rumah Bapak Zaky?”. “be..benar, ini rumah Bapak Zaky, saya istrinya, ada apa ya pak?”, jawabku penuh rasa cemas.

“Ibu istrinya Pak Zaky? Kebetulan sekali..maaf ibu, Bapak Zaky mengalami kecelakaan saat sedang berjualan roti dan saat ini sedang dirawat d Rumah Sakit,.ibu bisa ikut kami ke Rumah Sakit !”. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan ajakan mereka. Di dalam mobil pun aku hanya bisa menangis tanpa bertanya sepatah katapun pada mereka. Aku hanya bertanya dalam hati “jualan roti? Untuk apa Mas Zaky jualan roti? Sejak kapan ia jualan roti?”.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung diantar ke kamar mas Zaky oleh dua polisi tersebut. Di depan kamar itu sudah berdiri seorang dokter dan dua orang suster, akupun langsung bertanya pada dokter, “dokter, bagaimana keadaan suami saya?”. Dokter itu menjawab dengan ekspresi sedih dan kecewa, “maaf ibu, kami sudah melakukan semaksimal kami, namun ternyata nyawa suami ibu sudah tidak mungkin terselamatkan..otak beliau sudah benar-benar hancur di dalam, maafkan kami !”.

Bet, seketika tubuhku tidak bisa bergerak saat itu juga. Aku masih belum mempercayai dengan apa yang dikatakan dokter tersebut. Aku berharap ini semua hanya mimpi. Perlaha-lahan aku langkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, di dalam sudah ada seorang laki-laki dan perempuan yang aku tidak mengenalnya sama sekali. Pandanganku segera aku alihka pada tubuh yang telah tertutup selimut di ranjang. Aku dekati ranjang tersebut dan mulai aku tarik selimut tersebut dari atas. Saat itu aku masih berharap kalau dua orang polisi tadi salah orang, namun ketika selimut tersebut telah aku buka sampai leher, aku tahu ternyata aku yang salah dan dua orang polisi tadi tidak salah orang. Wajah Sang Jagoan tetap tersenyum walau telah meninggalkanku. Aku tidak bisa menahan rasa sedih ini, aku hanya berteriak-teriak sambil menangis seperti orang gila daritadi, “Mas Zakyyyyyyyyyyyyyyyyyyy ! ! ! ! ! aku hamil maaaaaaaaaaaaaaaasss ! ! ! mas zakyyy banguuuuunn ! ! ! aku hamil anak kita maaaasss ! ! ! !” . Aku benar-benar belum terima dengan yang terjadi, daritadi aku peluk tubuh suamiku tercinta dan cium wajahnya berulan-ulang, aku seperti orang gila karena berharap Mas Zaky hanya bercanda saat itu seperti yang biasa dilakukannya.

Di tengah tangisanku, tiba-tiba ibu yang dari tadi sudah ada di dalam kamar menepuk bahuku. Ia berkata, “hmm..ibu jangan nangis, kalau Pak Zaky masih hidup, pasti beliau akan sedih melihat ibu menangis..saya Bu Rahma, yang punya Roti yang biasa Pak Zaky jual..pak Zaky orangnya hebat ya bu, nggak cerita masalahnya karena nggak pengen ibu sedih?”. Sejenak aku berhenti memeluk jenazah suamiku dan duduk bersama ibu tadi. Akhirnya ibu tadi bercerita tentang Mas Zaky dan aku sangat kaget dengan yang terjadi dengan Mas Zaky selama ini. Ternyata tiga bulan lalu brankas rumah makan mas Zaky dibobol perampok, lalu rumah makan tersebut dibakar oleh para perampok tersebut tanpa sisa. Ia tidak mau menceritakan semuanya padaku karena ia tidak mau membuatku bersedih karena saat itu aku sedang bersedih akibat oang-orang membicarakan diriku yang tak kunjung hamil. Mas Zaky menggunakan uang tabungannya untuk membayar pesangon para pegawainya, dan ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi saat itu selain mobil yang biasa ia kendarai tiap hari. Ia jelas tidak mungkin menjual mobil itu sebagai modal memulai usaha yang baru karena itu akan membuat aku bingung dan ikut sedih dalam masalahnya. Lalu kenapa ia tidak mengambila dari tabunganku saja yang jelas lebih dari cukup untuk memulai bisnis baru karena Mas Zaky selalu memasukkan 80% pemasukkannya tiap bulan ke rekeningku? Ibu tadi menjelaskan bahwa Mas Zaky tidak mau melakukannya karena lagi-lagi ia tak mau aku mengetahui masalahnya dan Mas Zaky ingin agar tabunganku dipakai suatu saat ketika dia telah tiada. Menurut cerita ibu tadi, saat mas Zaky hampir putus asa, ia bertemu dengan suaminya di masjid dan suaminya menawarinya pekerjaan sebagai tukan roti keliling menggunakan gerobak dan Mas Zaky langsung mengiyakannya.

Aku lagsung berhenti menangis ketika ibu tersebut berhenti bercerita. Aku tau Sang Jagoan akan sedih andai tah aku menangis. Sekarang aku tau jawaban dari pertanyaanku tadi, darimana suara rel dan wanita yang tadi aku dengar di telepon, saat itu ia sedang manjual roti di dekat rel dan ada wanita yang sedang membeli roti yang dia jual. Kamu memang tetap Sang Jagoan dari dlu sampai sekarang mas, bahkan dalam doamu pun hanya aku yang kamu sebut. Aku tau sekarang engkau sedang tersenyum di sana karena doamu saat SMP terkabul, doa agar tidak kehilangan wanita yang kau cintai untuk kedua kalinya. Hebat, tapi sekarang aku yang kehilangan lelaki yang sangat aku cintai dalam hidupku.

Mas Zaky suamiku sayang, aku akan menjaga cintamu selamanya, aku tidak akan menikah lagi sampai kapanpun, aku akan menjadi single parent dan membesarkan anak kita hingga menjadi sholih atau sholihah yang membuat bangga orangtuanya. Aku akan menceritakan padanya bahwa abinya adalah sosok lelaki yang sangat hebat, Sang Jagoan bagi semua. Suamiku, aku benar-benar bangga pernah dicintai oleh lelaki sepertimu, aku beruntung mempunyai suami yang sholih sepertimu yang bisa membuatku jadi istri yang lebih baik dalam agama sekarang. suamiku, engkau adalah Sang Juara dan Jagoan abadi dalam hidupku, semoga aku sudah bisa engkau anggap sebagai istri sholihah agar aku bisa menjadi ratu bidadarimu di surga kelak. Suamiku, aku beruntung memilikimu.

Karya Penulis Amatir Muda Alfarizy
Ditulis dalam waktu 10 jam..
Maaf jika kurang menarik, harap maklum karena menulis cerpen 10X lebih sulit daripada menulis novel..
Semoga bermanfaat dan dapat diambil pelajaran untuk semua.. Amiin...

ditulis oleh teman dari sahabat saya ...

1 comment: